Menganggapi Revolusi Industri 4.0 Secara Bijak

Revolusi industri sudah terjadi sejak tahun 1750 dan terus berlanjut hingga saat ini. Pada masa itu revolusi industri dimulai dengan hadirnya mesin uap yang mendominasi industri, kereta hingga penggerak turbin. Semuanya telah berubah secara dramatis hingga kini kita mulai menyongsong  revolusi industri 4.0.

Revolusi Industri 4.0

Pengertian revolusi industri 4.0

Revolusi industri 4.0 secara singkat dipahami sebagai bentuk tren baru di dunia industri yang menggabungkan antara teknologi otomatisasi dengan teknologi cyber. Industri 4.0 menjadi nama tren untuk otomatisasi dan pertukaran data dalam teknologi pabrik. Istilah ini mencakup komputasi awan, sistem siber-fisik, komputasi kognitif dan internet untuk segala. Tujuan industri 4.0 adalah menghasilkan pabrik cerdas dengan adanya sistem siber fisik yang mengawasi kegiatan fisik.

Konsep industri 4.0 pertama kali diperkenalkan dalam pameran industri Hannover Messe di Jerman tahun 2011. Bermula dari peristiwa ini juga ide industri 2.0 dan industri 3.0 muncul dari yang sebelumnya hanya dikenal dengan istilah Revolusi Teknologi dan Revolusi Digital.

Semua revolusi yang terjadi menggunakan revolusi sebelumnya sebagai dasar. Revolusi industri 2.0 tidak akan muncul selama manusia masih mengandalkan otot, air dan angin untuk menunjang kegiatan produksi. Selanjutnya revolusi industri 3.0 hanya mengupgrade apa yang dihasilkan pada industri 2.0 dengan munculnya lini produksi robot da komputer. Kira-kira kemajuan apa saja yang terjadi pada revlolusi industri 4.0 ? mari kita telisik satu persatu.

Kemajuan pertama yang paling terasa adalah semakin berkembangnya teknologi internet. Semua komputer kini tersambung dengan jaringan bersama. Komputer yang dulunya berbentuk cukup besar, kini menjadi samakin kecil bahkan hanya sebesar genggaman tangan yang kita kenal sebagai smartphone. Bukan hanya tersambung, kita selalu tersambung dengan jaringan internet raksasa. Ketika komputer-komputer pabrik terhubung ke internet, adanya masalah pada lini produksi dapat langsung diketahui meski dari jarak jauh.

Kemajuan yang kedua adalah munculnya begitu banyak sensor untuk merekam berbagai informasi selama 24 jam. Informasi ini juga menyangkut kinerja pegawai dalam suatu pabrik. Perusahaan dapat dengan mudah melacak gerakan seluruh pegawai yang ada di dalam pabrik. Dari gerakan tersebut dapat terlihat dengan jelas di bagian mana pegawai terlalu banyak menghabiskan waktu sehingga dapat digunakan sebagai dasar perbaikan kinerja. Ada lebih banyak informasi yang didapat dari berbagai data yang terekam sehingga upaya peningkatan produktivitas pun dapat dilakukan dengan lebih mudah. Kemajuan ini juga disebut dengan Big Data.

Kemajuan ketiga yang juga masih berhubungan dengan kemajuan pertama dan kedua adalah cloud computing. Kemajuan ini mengandalkan teknologi komputasi awan. Perhitungan rumit dan penyimpanan begitu banyak data tentu harus didukung dengan lebih banyak komputer. Dengan adanya cloud computing tidak perlu lagi membeli 5 komputer untuk menyimpan banyak data. Hanya dengan menggunakan satu superkomputer data-data tersebut dapat diakses dengan mudahnya menggunakan dukungan internet.

Kemajuan keempat yang sejatinya menjadi kemajuan paling besar adalah machine learningMachine learning merupakan sebuah mesin yang memiliki kemampuan belajar dan juga memiliki kemampuan koreksi. Dengan adanya koreksi yang tepat, kesalahan yang sebelumnya terjadi dapat diperbaiki untuk menghasilkan hasil pekerjaan yang lebih baik. Sebelum adanya teknologi ini, sebuah komputer hanya bisa melakukan tugasnya dengan diperintah atau diinstruksikan oleh manusia.

Revolusi industri 4.0 memiliki 4 prinsip dasar yang diaplikasikan oleh perusahaan untuk memenuhi skenario 4.0. Berikut 4 prinsip dasar yang dimaksud.

  1. Interoperabilitas/kesesuaian. Dalam prinsip ini kemampuan sensor, perangkat, mesin serta manusia terhubung dan saling berkomunikasi satu sama lain menggunakan media internet (IoT).
  2. Transparansi informasi, merupakan kemampuan sistem informasi dalam menciptakan salinan dunia fisik secara virtual, memperkaya pabrik digital dengan data sensor.
  3. Bantuan teknis, Bantuan teknis yang pertama  dapat digunakan manusia untuk mengumpulkan data serta membuat visualisasi dari data tersebut agar dapat membuat keputusan yang bijak. Bantuan teknis yang kedua menggunakan kemampuan sistem siber-fisik untuk membantu manusia melakukan berbagai tugas yang tidak menyenangkan, berat dan tidak aman.
  4. Keputusan mandiri, merupakan kemampuan sistem siber fisik untuk melakukan tugas dan mengambil keputusan secara mandiri.

Tantangan revolusi industri 4.0

Optimisme revolusi menjanjikan angka-angka yang optimis. Adanya inisiatif Making Indonesia 4.0 diyakini dapat membawa Indonesia berada di 10 besar peringkat ekonomi dunia pada tahun 2030. Angka net ekspor Indonesia akan dikembalikan pada angka 10%, terciptanya 7 sampai 19 juta lapangan pekerjaan baru, meningkatnya produktivitas pekerja hingga 2 kali lipat serta mengalokasikan 2% GDP untuk aktivitas R&D inovasi dan teknologi. Kita semua tentu berharap jika optimisme tersebut tidak hanya sekedar slogan merupakan ramalan masa depan dengan hasil nyata.

Setiap perubahan tentu memiliki dampak positif dan negatif yang berbeda, termasuk dengan hadirnya revolusi industri 4.0. Ada tantangan tersendiri yang harus kita hadapi bersama untuk mengikuti arus perubahan revolusi industri 4.0. Bukan tanpa sebab, tantangan ini dikhawatirkan dapat menggilas pemain inkumben yang tidak dapat mengikuti ritme revolusi industri 4.0.

Contoh nyata dari tantangan revolusi industri 4.0 adalah munculnya layanan berbasis online seperti belanja dan transportasi online. Kita tahu bersama jika belakangan inidemand belanja online di Indonesia semakin meningkat. Hampir semua barang kini dijual secara online, dari mulai makanan, minuman, sayuran, pakaian, sepatu hingga berbagai barang pemenuh kebutuhan lainnya. Hal ini tentu memberikan dampak yang cukup serius pada retail-retail tradisional. Tidak sedikit peretail tradisional yang kini gulung tikar karena omset penjualannya menurun.

Layanan transportasi online pun kini semakin menjamur, dengan mudahnya kita bisa memesan taksi maupun ojek kapanpun dan dimanapun tanpa perlu datang lansung ke pangkalan atau memberhentikan taksi di pinggir jalan. Pemain inkumben masih bisa bertahan dengan mendaftarkan diri pada layanan transportasi online ini dan tidak kehilangan pelanggan. Sedangkan sebagian pemain inkumben lainnya yang tidak dapat mengikuti sistem ini sehingga mulai kehilangan pelanggan yang menyebabkan omset penghasilannya menurun.

Revolusi industri 4.0 memang menjanjikan berbagai kemudahan dan kemajuan teknologi yang berbaur dengan kemajuan ekonomi bisnis. Namun agaknya kita perlu menyikapi hal ini secara bijak. Tidak hanya terbuai dengan janji-janji manis revolusi industri, kita harus mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai tantangan baru yang tentunya akan  jauh lebih sulit. Agar dapat memanfaatkan momentum revolusi industri secara tepat, ada berbagai strategi-strategi cerdas yang perlu diterapkan.

Hadirnya revoluasi industri 4.0 tidak seharusnya menggilas pemain inkumben melainkan mengantarkan kemajuan dengan memperbaiki tatanan yang ada. Indonesia harus siap menghadapi revolusi industri 4.0 yang sudah semakin dekat. Kerugian sosial ekonomi yang diantarkan oleh perubahan mendadak ini tidak seharusnya dibiarkan begitu saja. Meminimalkan kerugian dan memetik keuntungan dari hadirnya revolusi industri 4.0 merupakan misi yang harus diwujudkan bersama melalui strategi—strategi cerdik.

Tinggalkan komentar

error: Content is protected !!